Beranda > Climate and Weather > Mengenali Pola Hujan di Berbagai Kawasan di Indonesia

Mengenali Pola Hujan di Berbagai Kawasan di Indonesia

weather iconsPERNAH seorang mahasiswa ketika mendiskusikan hasil penelitiannya, bertanya, “Pak, bulan April ini kok masih ada hujan ya? Bukankah seharusnya sudah masuk musim kemarau? Apakah ini ada penyimpangan?”

Pertanyaan ini memang selalu muncul jika pada bulan April atau Mei masih terjadi hujan, apalagi bila masih lebat dan sering seperti yang terjadi belakangan ini. Sama halnya dengan keheranan banyak orang ketika mengetahui kebakaran hutan mulai berlangsung di Riau pada bulan Februari, saat penduduk Jakarta dan sekitarnya masih berkutat menanggulangi banjir.

Cuaca, yang menyangkut hujan dan panas, memang merupakan suatu sistem yang kompleks.  Oleh karena itu, untuk mengetahui penyimpangan pola iklim di Indonesia, minimal diperlukan data 30 tahun untuk curah hujan dan sekitar 10 tahun sedikitnya untuk data unsur iklim lainnya, seperti suhu udara, maupun radiasi surya.

Jadi, untuk melihat kondisi penyimpangan iklim di suatu wilayah tidak bisa dilakukan dengan hanya melihat kondisi tahun ini saja, tetapi harus menengok data selama puluhan tahun dan memahami pola cuaca di kawasan khatulistiwa.

Secara umum curah hujan di Indonesia terbagi menjadi tiga pola hujan (tergolong unik di dunia), yaitu pola ekuatorial, pola monsun, dan pola lokal.

Pola ekuatorial berhubungan dengan pergerakan zona konvergensi ke utara dan selatan mengikuti pergerakan semu Matahari, dicirikan oleh dua kali maksimum curah hujan bulanan dalam satu tahun. Di Indonesia, wilayah yang mengikuti pola ini adalah sebagian besar Sumatera dan Kalimantan.

Pola monsun dipengaruhi oleh angin laut dan darat dalam skala yang sangat luas, dicirikan oleh adanya perbedaan yang jelas antara periode musim hujan dan kemarau dalam satu tahun. Kondisi ini berperan besar di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Pola lokal dicirikan oleh pengaruhi kondisi geografis setempat. Faktor pembentukannya adalah naiknya udara yang menuju ke dataran tinggi atau pegunungan, serta pemanasan lokal yang tidak seimbang. Kondisi ini banyak terjadi di Maluku, Irian Jaya, dan sebagian Sulawesi.

Semua pola tersebut menunjukkan bahwa bisa saja terjadi musim yang berbeda di setiap provinsi di Indonesia. Ini pun masih ditambah kenyataan bahwa setiap wilayah di dalam satu provinsi juga memiliki pola curah hujan yang berbeda.  Sebagai contoh di Jawa Barat, pola curah hujan di Bogor akan lain dengan pola hujan di daerah Indramayu.

  1. Belum ada komentar.
  1. Agustus 13, 2014 pukul 11:55 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s